Filsafat Yunani kuno kerap digambarkan megah, penuh diskusi akademis di akademia Plato atau pengamatan ilmiah di Lyceum Aristoteles. Namun, sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang membangun sistem pemikiran besar. Ada pula kelompok kecil yang memilih jalur berbeda: menantang, meruntuhkan, bahkan menertawakan apa yang dianggap mapan. Dari jalur ini lahirlah kaum Sinis dan kaum Skeptis.
Keduanya sering dianggap “pengganggu” karena tidak sibuk menyusun teori universal, melainkan menggugat keyakinan yang sudah ada. Sinis hadir dengan cara hidup yang ekstrem, seolah berkata: “Lihat, semua kemewahan dan norma hanyalah tipuan.” Skeptis hadir dengan keraguan intelektual, menolak kepastian apa pun, seolah berkata: “Apakah kau benar-benar tahu apa yang kau yakini?”
Meski berbeda arah, keduanya sama-sama ingin membebaskan manusia. Sinis membebaskan tubuh dari belenggu sosial, Skeptis membebaskan pikiran dari tirani kebenaran palsu. Inilah yang membuat mereka menarik: filsafat mereka bukan sekadar teori, melainkan cara hidup yang menyeluruh.
Hidup di Dalam Gentong: Filsafat Kaum Sinis
Sinisme lahir dari Antisthenes, murid Socrates, tetapi mencapai simbol paling kuat pada Diogenes dari Sinope. Jika Plato mendirikan akademi, Diogenes mendirikan hidupnya sendiri sebagai panggung filsafat. Ia tinggal di gentong besar di Athena, menolak rumah, pakaian, dan harta. Diogenes hidup seperti anjing—dan memang kata “Sinis” berasal dari bahasa Yunani kynikos, artinya “seperti anjing.”
Bagi kaum Sinis, kebahagiaan lahir dari kesederhanaan ekstrem. Harta benda, jabatan, bahkan sopan santun adalah jerat. Dengan menanggalkan semua itu, manusia kembali pada kodratnya yang bebas. Diogenes terkenal karena gaya hidupnya yang eksentrik: berjalan tanpa malu, makan dengan tangan, tidur di jalan. Namun di balik eksentrisitas itu ada pesan keras: manusia menjadi budak ketika ia takut dicemooh, ketika ia mengejar status, atau ketika ia menimbun kekayaan.
Diogenes tidak hanya bicara, ia mempraktikkan. Suatu hari Alexander Agung menemuinya dan berkata, “Aku bisa memberi apa saja yang kau minta.” Diogenes menjawab: “Minggir, kau menutupi matahariku.” Dalam satu kalimat, ia meruntuhkan kebanggaan sang penakluk dunia.
Sinisme sebagai Kritik Sosial
Kaum Sinis adalah pengingat keras bahwa masyarakat kerap menciptakan aturan palsu. Mereka menertawakan adat istiadat, mengejek ambisi politik, bahkan mempermalukan orang-orang yang terlalu sibuk dengan kehormatan. Filsafat Sinis bukanlah teori di perpustakaan, melainkan kritik sosial di jalanan.
Bagi masyarakat Athena, mereka tampak seperti pengemis atau orang gila. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Diogenes memperlihatkan absurditas orang kaya yang rakus, sementara ia sendiri hidup cukup dengan sepotong roti.
Dalam konteks modern, Sinisme sering dikaitkan dengan anti-konsumerisme. Apa bedanya orang yang terjebak cicilan untuk mobil mewah dengan warga Athena yang mengejar status? Sama-sama budak, hanya bentuknya berbeda. Dengan demikian, Sinisme adalah ajakan untuk hidup lebih jujur pada kebutuhan dasar, bukan pada tuntutan sosial.
Skeptisisme: Jalan Ragu Menuju Kedamaian
Berbeda dengan kaum Sinis yang berteriak lewat gaya hidup, kaum Skeptis bergerak lewat akal. Dipelopori Pyrrho dari Elis, Skeptisisme berangkat dari kesadaran sederhana: manusia tak pernah bisa mencapai kepastian mutlak. Indra bisa menipu, logika bisa dipatahkan, dan klaim kebenaran bisa saling bertabrakan.
Dari sini lahir ajaran epoché, yakni menahan penilaian. Bagi kaum Skeptis, lebih baik diam daripada salah. Mereka tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu benar atau salah, melainkan membiarkan keraguan menggantung. Aneh memang, tetapi dari keraguan itu lahir kedamaian batin.
Pyrrho sendiri konon hidup tanpa khawatir. Saat badai laut mengguncang kapal, ia tetap tenang, menunjukkan seekor babi yang asyik makan. Pesannya jelas: manusia bisa hidup tanpa ketakutan jika tidak terlalu melekat pada kepastian.
Skeptisisme bukan nihilisme. Mereka tidak menolak hidup, hanya menolak klaim kebenaran absolut. Dengan demikian, Skeptisisme adalah jalan menuju kebijaksanaan melalui kerendahan hati.
Skeptisisme sebagai Jalan Hidup
Kaum Skeptis percaya bahwa keraguan adalah penjaga akal sehat. Orang yang terlalu yakin pada kebenaran justru mudah fanatik dan keras kepala. Dengan bersikap Skeptis, manusia belajar rendah hati: bahwa apa yang kita ketahui bisa salah, dan apa yang kita yakini bisa dipatahkan.
Sikap ini berpengaruh besar pada dunia modern. Sains tumbuh dari semangat skeptis: menguji, mengulang, dan tidak menerima klaim tanpa bukti. Tanpa Skeptisisme, ilmu pengetahuan mungkin akan berhenti pada dogma.
Dalam kehidupan sehari-hari, Skeptisisme adalah pelindung dari hoaks dan manipulasi. Di tengah banjir informasi, bersikap skeptis membuat kita lebih hati-hati sebelum percaya. Keraguan bukan kelemahan, melainkan bentuk kekuatan intelektual.
Sinis dan Skeptis: Dua Jalan Melawan Kepastian
Sinisme dan Skeptisisme adalah dua cara berbeda untuk melawan kepastian yang menipu. Kaum Sinis menyerang tubuh dan gaya hidup: menolak norma sosial, hidup seperti anjing, dan menertawakan ambisi manusia. Kaum Skeptis menyerang pikiran: meragukan pengetahuan, menahan penilaian, dan menemukan kedamaian dalam ketidakpastian.
Keduanya tampak ekstrem, tetapi justru karena itu relevan. Sinisme mengajarkan kejujuran hidup: apakah kita benar-benar butuh semua kemewahan, atau hanya sedang menjadi budak gaya hidup? Skeptisisme mengajarkan kejujuran berpikir: apakah kita benar-benar tahu, atau hanya mengulang apa yang kita dengar?
Dalam dunia modern, pesan mereka tetap hidup. Sinis hadir dalam gerakan hidup minimalis, skeptis hadir dalam metode ilmiah. Sinis mengingatkan kita untuk tidak dikuasai barang, skeptis mengingatkan kita untuk tidak dikuasai ide. Dua-duanya adalah filsafat pembebasan: tubuh yang merdeka, dan pikiran yang merdeka.
Mungkin, di tengah dunia yang sibuk memuja kepastian—baik lewat politik, ideologi, maupun teknologi—kita masih perlu sedikit menjadi Sinis dan Skeptis. Agar tidak terseret arus ilusi, agar bisa berdiri lebih bebas, lebih tenang, dan lebih manusiawi.

